Kita yang Terlambat
Cerpen Abdul R Saleh
Langit sedang redup, seperti
menahan hujan yang tak jadi turun. Aku berdiri di peron stasiun, memeluk tas
kerja dan kelelahan yang belum sempat kutaruh di rumah. Kereta tujuan Jakarta
terlambat tiga puluh menit. Orang-orang mengeluh pelan. Anak kecil menangis.
Seorang ibu menawari gorengan yang mulai dingin.
Klik di sini untuk baca terus membaca
