Novel ini mengisahkan perjalanan inspiratif Sena, seorang pustakawan idealis yang penuh semangat mengembangkan literasi di daerah kecil melalui program AKAR (Akses Literasi Akar Rumput). Berangkat dari tugasnya di perpustakaan kecamatan yang sederhana, Sena menghadapi berbagai tantangan: minimnya koleksi buku yang relevan, rendahnya minat baca masyarakat yang berakibat rendahnya minat masyarakat datang ke perpustakaan, serta keterbatasan dana dari pemerintah daerah yang lebih banyak dialokasikan untuk pembangunan fisik seperti monumen daripada pengembangan literasi.
Dalam perjuangannya, Sena bertemu dengan Gas, seorang anak jalanan yang dulunya seorang pemulung dan gelandangan. Dengan tekad kuat dan bantuan dari Sena serta aktivis sosial Amira, Gas perlahan berubah menjadi sosok muda penuh harapan, bahkan menjadi asisten Amira dalam membina komunitas belajar anak jalanan. Rumah Baca Roda yang awalnya sederhana dan hampir terancam dibongkar, berhasil diselamatkan berkat intervensi Dana CSR sebuah perusahaan, yang diam-diam digagas oleh Sena. Rumah Baca itu pun berkembang menjadi pusat literasi dan pemberdayaan masyarakat yang berhasil direplikasi di banyak daerah.
Konflik memuncak saat ancaman pembongkaran Rumah Baca kembali datang dari luar, diwarnai juga intrik personal dengan Doni, mantan pacar Amira yang marah karena aktivitas sosial Amira mengganggu hubungan mereka. Namun, berkat dukungan komunitas, solidaritas anak-anak jalanan, dan bantuan seorang pengusaha yang visioner, Rumah Baca Roda tetap berdiri tegak.









