Minggu, 24 Agustus 2025

AKAR : Akses Literasi Akar Rumput - Novel


Novel ini mengisahkan perjalanan inspiratif Sena, seorang pustakawan idealis yang penuh semangat mengembangkan literasi di daerah kecil melalui program AKAR (Akses Literasi Akar Rumput). Berangkat dari tugasnya di perpustakaan kecamatan yang sederhana, Sena menghadapi berbagai tantangan: minimnya koleksi buku yang relevan, rendahnya minat baca masyarakat yang berakibat rendahnya minat masyarakat datang ke perpustakaan, serta keterbatasan dana dari pemerintah daerah yang lebih banyak dialokasikan untuk pembangunan fisik seperti monumen daripada pengembangan literasi.

Dalam perjuangannya, Sena bertemu dengan Gas, seorang anak jalanan yang dulunya seorang pemulung dan gelandangan. Dengan tekad kuat dan bantuan dari Sena serta aktivis sosial Amira, Gas perlahan berubah menjadi sosok muda penuh harapan, bahkan menjadi asisten Amira dalam membina komunitas belajar anak jalanan. Rumah Baca Roda yang awalnya sederhana dan hampir terancam dibongkar, berhasil diselamatkan berkat intervensi Dana CSR sebuah perusahaan, yang diam-diam digagas oleh Sena. Rumah Baca itu pun berkembang menjadi pusat literasi dan pemberdayaan masyarakat yang berhasil direplikasi di banyak daerah.

Konflik memuncak saat ancaman pembongkaran Rumah Baca kembali datang dari luar, diwarnai juga intrik personal dengan Doni, mantan pacar Amira yang marah karena aktivitas sosial Amira mengganggu hubungan mereka. Namun, berkat dukungan komunitas, solidaritas anak-anak jalanan, dan bantuan seorang pengusaha yang visioner, Rumah Baca Roda tetap berdiri tegak.

Klik di sini untuk lanjut membaca

Jejak Pustakawan : Sebuah novel berbasis kisah nyata




Oleh Abdul Rahman Saleh

Dari seorang lulusan perguruan tinggi yang nyaris putus asa karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan, Herman akhirnya menerima tawaran bekerja di perpustakaan—bukan karena panggilan jiwa, tapi karena terpaksa.

Apa yang semula dianggap “tempat buangan” ternyata justru menjadi tempat yang membentuknya dari dasar: mengenalkan ketekunan, kesunyian yang penuh makna, dan obsesi akan perubahan.

Melalui lika-liku hidup pribadi, studi ke luar negeri, hingga kehilangan ibunda tercinta di ujung masa studi, Herman tumbuh bukan hanya sebagai pustakawan, tapi sebagai pelopor. Ia membangun sistem otomasi perpustakaan dari nol bersama tim kecil, menghadapi resistensi internal, dan tetap berjalan saat tak dianggap.

Dari rak-rak berdebu hingga podium seminar nasional.

Senin, 18 Agustus 2025

Cinta itu Perlahan Tumbuh - Cerpen


Oleh Abdul Rahman Saleh

 Tini manis, sopan, dan senyumnya seperti tak pernah kehabisan tenaga. Pagi-pagi, dari teras rumahnya dia sering melambaikan tangan sambil menyapa.

“Pagi, Mas Arman. Sudah sarapan belum?”
Aku biasanya cuma mengangguk singkat.

Perjuangan - Cerpen

 


Oleh Abdul Rahman Saleh

Perpustakaan sore itu begitu hening, tapi kepalaku justru riuh. Jari-jariku tak berhenti mengetuk meja kayu yang kusam, seolah ikut menghitung detak panik di dadaku. Di layar ponsel, daftar nilai semester ini terpampang jelas: dua mata kuliah harus kuulang. Dua. Sesuatu di mataku terasa panas—antara lelah dan kecewa.

Klik di sini untuk melanjutkan baca.

Senin, 11 Agustus 2025

Cinta Itu Mulai Merekah - Cerpen

 


Abdul Rahman Saleh

Liburan panjang hampir usai. Aku bersiap kembali ke kampus. Tak banyak yang kubawa—hanya satu ransel besar dan sebuah dus kecil berisi oleh-oleh.
Sebelum berangkat, aku meminta Ibu membelikan sesuatu yang khas kampung. Sekadar buah tangan, meski tak ada yang istimewa. Ibu memilih keripik singkong dan dodol pisang buatan tetangga. Sederhana, tapi cukup membawa aroma rumah ke perantauan.

Anda bisa melanjutkan membaca dengan men"klik" tautan ini

Di Antara Hujan dan Senyum - Cerpen

 

Oleh Abdul Rahman Saleh

Di bawah gerimis sore, sebuah genggaman tangan membuka pintu pada rasa yang belum pernah ia alami sebelumnya. Namun, di balik senyum hangat dan janji pulang bersama, ada kenyataan yang perlahan mengaburkan harapan. Di Antara Hujan dan Senyum adalah kisah sederhana tentang manisnya awal, getirnya akhir, dan keberanian untuk melepaskan sebelum luka menjadi terlalu dalam.


Untuk membaca lanjutan cerita ini silakan klik di sini


Sabtu, 09 Agustus 2025

Cinta Monyet (Cerpen)

 


Oleh Abdul Rahman Saleh

Aku masih SMP waktu itu. Masih bau keringat dan belum bisa pakai parfum. Tapi satu hal yang sudah kutekuni sejak kecil: aku jago main catur. Bapak yang mengajariku sejak aku kelas tiga SD, dan sejak itu, papan catur seperti teman kedua setelah buku pelajaran.

Untuk melanjutkan membaca silakan klik di sini

Rabu, 06 Agustus 2025

Di Balik Kabut Bandungan - Cerpen

Abdul Rahman Saleh

Bandungan, kota kecil di lereng gunung itu, selalu berkabut setiap pagi. Dingin yang menusuk tulang seakan memaksa siapa pun untuk lebih lama berselimut. Tapi aku sudah terbiasa. Kamar kosku sempit, lembap, dan cat temboknya mulai mengelupas. Bau tembakau dari kamar sebelah kadang menyelinap masuk lewat celah jendela kayu. Kos ini tidak istimewa, tapi cukup untuk anak SMA perantauan sepertiku—yang penting bayar tepat waktu, begitu kata Bu Rini, si pemilik kos yang lebih tertarik pada amplop bulanan ketimbang kelakuan penghuninya. 

Klik disini untuk membaca lanjutannya

Selasa, 05 Agustus 2025

Yang Tersisa dari Ungaran - Cerpen

 Oleh Abdul Rahman Saleh

Sudah dua bulan berlalu sejak lokakarya yang… berkesan itu. Hari-hariku kembali berjalan seperti biasa di Perpustakaan Universitas Majapahit. Rutinitas yang tenang dan terukur: membantu mahasiswa yang kebingungan mencari arah penelitiannya, menelusuri jurnal-jurnal yang relevan, dan sesekali menyusun daftar bacaan terbaru untuk dipajang di rak referensi.

Untuk membaca lanjutan cerita ini silakan klik di sini


Senin, 04 Agustus 2025

Cinta Datang diwaktu Magang - Cerpen

 


Oleh: Abdul Rahman Saleh

Siang itu matahari menggantung tepat di atas kepala saat aku dipanggil masuk ke ruang Kepala Perpustakaan. Ruangan itu berpendingin, tapi tetap terasa tegang. Kepala—begitu kami memanggilnya, meskipun namanya Pak Budi—langsung menyodorkan selembar surat sambil berkata tanpa banyak basa-basi, “Lukman, kamu ikut seminar ini ya.”

Untuk membaca terus silakan klik di sini

 

 

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

  Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian r...