Oleh Abdul Rahman Saleh
Sebuah perpisahan kecil di akhir SMA membawa Arman pada kenangan yang tak lekang. Surat-surat beramplop merah muda dari Sufi—teman belajar yang diam-diam mengisi ruang hatinya—menjadi penghibur di tengah hiruk pikuk kehidupan kampus. Namun kebahagiaan itu berakhir ketika sebuah surat terakhir datang, menutup pintu harapan yang pernah ia jaga.
Bertahun-tahun kemudian, reuni mempertemukan mereka kembali. Hanya sekelebat tatapan, hanya sapaan singkat, sebelum keduanya kembali pada jalan masing-masing. Dan Arman sadar, ada cinta yang memang tidak untuk dimiliki… hanya untuk dikenang.
Untuk membaca cerpen lengkapnya klik di sini