Jumat, 05 Juni 2026

Naik Haji

Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT


Abdul Rahman Saleh

Pagi di Kampung Betager selalu dimulai dengan suara timba beradu dengan bibir sumur. Syarif adalah orang yang paling sering terdengar bunyinya. Ia datang paling awal, menarik air, mengisi jeriken-jeriken tua, lalu memanggulnya satu per satu ke rumah-rumah.

Orang mengenalnya sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Rumahnya berdinding anyaman bambu, lantainya tanah. Istrinya, Rukayah, sabar tanpa banyak kata. Lima anaknya masih kecil-kecil, paling besar baru kelas tiga SD. Mereka sering ikut berlarian di belakang Syarif, membawa gelas atau ember kecil, sekadar merasa membantu.

Untuk lanjut membaca silakan klik tautan ini

Rabu, 15 April 2026

Obsesi (cerpen)

 

Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT

Abdul R Saleh

Hari itu adalah hari yang terasa paling cerah dalam ingatanku, secerah langit desa yang tak pernah benar-benar tercemar asap. Ayahku berkata sesuatu yang mengubah cara pandangku terhadap dunia.

Aku akan dibawa ke Jakarta oleh Om.

Sebuah kota yang hanya kukenal dari cerita-cerita yang terdengar seperti dongeng—tentang gedung tinggi, jalan yang tak pernah tidur, dan lampu-lampu yang bersinar seperti bintang yang jatuh ke bumi. Aku, seorang anak desa kelas tiga SD, mendadak merasa seperti terpilih untuk keluar dari hidup yang sempit dan berulang.

Untuk lanjut membaca silakan Klik di sini

Selasa, 14 April 2026

Doa yang Tertinggal di Dapur (Cerpen)

 

Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT

Abdul Rahman Saleh

“Yu, kamu jangan sombong!”

Suara itu memecah pagi seperti piring yang dijatuhkan dengan sengaja. Aku yang sedang duduk di sudut ruang tamu tersentak. Dari dapur, suara perempuan itu terus mengalir—tajam, keras, tanpa jeda.

“Rumah kamu saja seperti kandang ayam, kok sok mau menguliahkan anak. Lihat aku! Hartaku tidak akan habis tujuh turunan. Anakku tidak perlu kuliah!”

Untuk melanjutkan membaca silakan Klik di sini


Jumat, 10 April 2026

Purnama di Malam Pertama

 


Abdul Rahman Saleh

Malam itu, purnama bertahta di singgasana langit, menumpahkan cahaya peraknya yang memukau, mengubah dunia menjadi lukisan bisu yang agung. Resepsi pernikahanku baru saja usai, dan hiruk-pikuk kebahagiaan perlahan mereda. Satu per satu kursi-kursi ditumpuk, piring-piring dikumpulkan, dan tawa yang tadi memenuhi halaman rumah keluarga Tini kini hanya tinggal gema samar yang mengendap di udara malam.

Untuk lanjut membaca silakan Klik di sini

Kamis, 02 April 2026

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

 

Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT

Abdul R Saleh

Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian ruangannya dijadikan warung.  Beratap seng yang kalau hujan berbunyi seperti ribuan kenangan jatuh bersamaan. Meja-mejanya tak seragam, kursinya ada yang pincang, dan dindingnya dipenuhi bekas asap masakan yang tak pernah benar-benar hilang.

Untuk lanjut membaca cerpen ini silakan Klik di sini

Rabu, 01 April 2026

Setitik Garam dalam Samudera Literasi: Memoar Sang Pioner SIPISIS

Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT

Abdul R Saleh

Obsesi sering kali lahir dari sebuah perjalanan jauh. Bagi saya, obsesi itu dimulai di musim semi tahun 1984, di sebuah sudut Perpustakaan Faculty of Engineering, University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat. Saat itu, saya dikirim untuk mengikuti pelatihan singkat (short-term training) selama tiga bulan. Tugas saya sederhana namun berat bagi orang yang terbiasa dengan kertas dan tinta: mengenal komputer.


Untuk terus membaca cerita ini silakan Klik di sini

Rumah yang Dijual (Cerpen)

 

Ilustrasi dengan bantuan ChatGPT

Abdul R Saleh

Papan itu berdiri agak miring di halaman depan.

Tulisan “DIJUAL” yang dulu dicat tebal kini mulai mengelupas, dimakan panas dan hujan.

Aku sering berdiri di balik jendela, memandang papan itu seperti memandang seseorang yang tak benar-benar kukenal.
Kadang aku bertanya dalam hati—siapa sebenarnya yang ingin menjual rumah ini?

Untuk melanjutkan membaca silakan Klik di sini

Naik Haji

Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT Abdul Rahman Saleh Pagi di Kampung Betager selalu dimulai dengan suara timba beradu dengan bibir sum...