Abdul R Saleh
Hari itu adalah hari yang terasa paling cerah dalam
ingatanku, secerah langit desa yang tak pernah benar-benar tercemar asap.
Ayahku berkata sesuatu yang mengubah cara pandangku terhadap dunia.
Aku akan dibawa ke Jakarta oleh Om.
Sebuah kota yang hanya kukenal dari cerita-cerita yang
terdengar seperti dongeng—tentang gedung tinggi, jalan yang tak pernah tidur,
dan lampu-lampu yang bersinar seperti bintang yang jatuh ke bumi. Aku, seorang
anak desa kelas tiga SD, mendadak merasa seperti terpilih untuk keluar dari
hidup yang sempit dan berulang.





