Minggu, 21 Desember 2025

Jembatan yang tak Pernah Selesai Dilalui (Cerpen)

 Oleh Abdul Rahman Saleh


Disclaimer:

Cerita ini ditulis berdasarkan cerita Usman (alm.), kakak ipar penulis, yang pernah diceritakan kepada penulis. Namun penulis menceritakannya kembali menjadi cerita horor. Usman yang menjadi tokoh dalam cerita ini bukan Usman yang bercerita kepada penulis, melainkan Usman tokoh fiktif.

___________

Bagian I — Keluarga Penjaga

Keluarga Usman sudah tinggal di kampung itu, Bojong Neros yang dikenal dengan nama Bone, jauh sebelum rel kereta membelah tanah mereka.

Untuk meneruskan membaca, sila klik tautan di sini.



Selasa, 16 Desember 2025

Novel Trilogi: Di Ujung Semua Luka

by Abdul Rahman Saleh



Novel ini terdiri dari tiga novel yang saling berhubungan. Yang pertama berjudul Di Ujung Semua Luka, dilanjutkan dengan Saat Hujan di Sheffield Reda, dan ditutup oleh Ketika Jarak Menguji Cinta. Berikut adalah sinopsisnya:

Di Ujung Semua Luka

Supi Susilowati tumbuh di sebuah rumah tua peninggalan era Belanda, tersembunyi di antara hamparan perkebunan teh Cipanas, Bogor. Rumah itu adalah jantung kenangannya—tempat ia menjahit mimpi, mendekap sepi, dan menunggu seseorang yang pernah membuat hidupnya berpendar. Seseorang bernama Arman Abdullah, lelaki lembut yang hadir pada ulang tahunnya di sebuah Desember yang dingin, dengan syal biru dan tatapan yang menjanjikan masa depan.

Namun hidup tak selalu berjalan seperti dongeng. Pada hari ketika Supi berharap cinta—yang hanya sempat bersemi sebentar—akan tumbuh menjadi kenyataan, ia justru menerima kabar yang mematahkan. Arman meninggal dalam sebuah kecelakaan di luar kota. Yang tersisa hanya sepucuk surat dan syal biru yang dikirim sahabatnya, Jatmiko, setahun kemudian. Sejak itu, Desember bagi Supi bukan lagi bulan perayaan, melainkan ruang sunyi yang tak pernah selesai.

Waktu berlalu, tetapi luka tetap tinggal. Untuk mengisi kekosongannya, Supi mengubah rumah tua peninggalan orang tuanya menjadi rumah baca sederhana. Di sana ia bertemu Evan, pemuda relawan literasi yang ramah, cerdas, dan memiliki kelembutan yang mengingatkannya pada sesuatu yang pernah hilang. Bersama Evan, rumah baca itu hidup kembali—anak-anak datang, buku-buku dibuka, dan perlahan Supi pun membuka pintu hatinya.

Namun masa lalu tidak pernah pergi begitu saja. Ketika benih cinta mulai tumbuh di antara mereka, Evan justru mendapat kesempatan beasiswa ke Inggris. Dengan berat hati Supi melepasnya. Tapi tak ada yang tahu bahwa kepergian itu akan menjadi awal dari badai panjang yang menggulung hidup Supi.

Di saat Evan belajar di Sheffield, hidup Supi terjungkal masuk ke dalam tragedi. Rumahnya didatangi penjahat, ia dijarah, dianiaya, dan diperkosa. Semua itu terjadi dalam satu malam, menghancurkan seluruh fondasi jiwanya. Ia berharap tidak mengandung, tetapi takdir berkata lain. Supi hamil. Untuk menutupi aib, bibinya menikahkan Supi dengan seorang tetangga lugu bernama Harto—lelaki baik yang tak pernah menyentuh Supi tanpa izin.

Di Inggris, Evan menunggu surat yang tak pernah datang. Pesan-pesan dan kabarnya tenggelam seperti ditelan laut. Kesedihan membuat studinya hampir hancur sampai dosen pembimbing dan teman-temannya menolongnya bertahan.

Setelah lulus, Evan kembali ke Indonesia dan langsung menuju Cipanas. Tapi Supi sudah pergi. Bibi Siti mengungkapkan semuanya… kecuali di mana Supi berada. Evan mencari ke berbagai kota, hingga akhirnya menyerah dan memulai hidup baru sebagai dosen di Universitas Padjadjaran.

Takdir mempertemukan mereka kembali secara tak terduga—di sebuah warung bakso di Dago, Bandung. Supi yang bekerja sebagai SPG dan Evan yang baru pulang dari kampus akhirnya saling menatap untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Semua pertanyaan, penyesalan, dan luka masa lalu pecah seketika.

Supi takut. Evan teguh.

Supi penuh trauma. Evan penuh cinta.

Dan pada akhirnya, di tengah perjalanan panjang menuju penyembuhan, mereka kembali berjalan bersama. Evan melamar Supi sebelum keberangkatannya menempuh pendidikan doktoral di Sheffield. Kali ini, Supi ikut. Mereka menikah dalam kesederhanaan dan terbang ke Inggris, menata hidup baru di sebuah flat kecil YMCA—jauh dari masa lalu, dekat dengan harapan baru.

Sebab ternyata, di ujung semua luka, cinta masih bisa menemukan jalan pulang.


Saat Hujan di Sheffield Reda

Setelah luka panjang masa lalu perlahan terobati, Evan dan Supi memulai hidup baru sebagai pasangan suami-istri di Sheffield, Inggris. Evan melanjutkan studi doktoralnya di University of Sheffield, sementara Supi—yang datang dengan hati berdebar menghadapi negeri asing—berjuang menemukan ritme hidupnya sendiri.

Mereka tinggal di YMCA di Pitsmoor Road, sebuah flat internasional yang dihuni mahasiswa dari berbagai negara. Tantangan pertama Supi adalah bahasa Inggris. Dengan tekad kuat agar tidak selalu bergantung pada Evan, ia mengikuti kursus intensif. Dalam tiga bulan, ia mulai lancar berbicara, bahkan memiliki banyak teman sesama istri mahasiswa yang tinggal di flat itu.

Dari lingkaran pergaulan baru itulah Supi bertemu Karen Smith, seorang wanita ramah yang bekerja di sebuah daycare. Karen yang terpikat oleh ketekunan Supi menawarkan pekerjaan paruh waktu sebagai babysitter. Setelah berdiskusi dengan Evan, Supi menerima tawaran itu. Pekerjaan barunya memberinya rasa percaya diri, sekaligus membantu mereka bertahan hidup di kota mahal seperti Sheffield.

Akan tetapi, hidup di perantauan tidak selalu mulus. Suatu malam, setelah mengantar Karen keluar dari lobi, seorang pria lokal yang frustrasi karena menganggur memaki-maki Supi. Ia menuduh para imigran “merebut pekerjaan orang Inggris.” Supi ketakutan, tetapi pegawai YMCA menenangkannya. Keesokan harinya, pria itu ditemukan bunuh diri, dan karena Supi orang terakhir yang dilihat berbicara dengannya, YMCA segera menyembunyikan Supi dari kerumunan polisi. Beruntung ia tidak sampai diinterogasi.

Meski sempat ingin berhenti bekerja, Karen meyakinkannya bahwa ia aman. Supi bertahan. Perlahan ia kembali merasakan ketenangan hidup, ditemani rutinitas jalan-jalan akhir pekan bersama Evan ke The Moor Market, Meadows Hall, museum, atau sekadar menikmati kota berkabut itu.

Suatu hari, saat berbelanja cumi segar, Supi bertemu kembali dengan Andi—teman masa kecilnya di Cipanas yang dulu membentuk trio kecil bersama Arman. Pertemuan itu membuka pintu ke masa lalu. Andi yang kini sukses bekerja di Amsterdam mengaku bahwa selama puluhan tahun ia tidak pernah berhasil menghapus bayangan Supi dari hidupnya. Ia masih membujang, masih memendam cinta lama yang tak pernah padam.

Pertemuan-pertemuan berikutnya menegangkan. Andi berusaha mempengaruhi Supi, mengungkit kisah lama, memamerkan keberhasilannya, bahkan menawarkan hidup baru bersamanya. Supi sempat goyah oleh kenangan, tetapi tidak pernah berpindah hati. Pada pertemuan terakhir, ia menolak tegas dan meminta Andi berhenti menghubunginya. Supi memilih Evan—masa depannya.

Setelah badai kecil itu berlalu, hidup kembali tenang. Hingga suatu pagi Supi merasa mual. Hasil testpack menunjukkan ia hamil. Kebahagiaan menyelimuti rumah kecil mereka.

Kehamilan Supi berjalan baik. Karen sangat mendukungnya. Saat International Evening, Supi bahkan ikut memasak nasi uduk untuk stand Indonesia, yang kemudian memenangkan penghargaan tertinggi.

Puncaknya adalah kelahiran bayi laki-laki sehat di Royal Hallamshire Hospital. Evan dan Supi menamainya Ahmad Bagas Alvaro, simbol kekuatan, kebijaksanaan, dan harapan baru.

Di kota yang jauh dari kampung halaman, dalam dingin yang pernah terasa menusuk, hujan perlahan reda. Dan bersama hadirnya kehidupan baru, cinta Evan dan Supi menemukan rumahnya yang paling hangat.


Ketika Jarak Menguji Cinta

Jarak tidak selalu diukur oleh kilometer.
Kadang ia hadir sebagai waktu yang belum sembuh, masa lalu yang menunggu, atau pilihan yang menuntut keberanian.

Setelah badai panjang yang mereka lewati dalam Di Ujung Semua Luka dan harapan yang tumbuh kembali di Setelah Hujan di Sheffield Reda, Supi dan Evan percaya bahwa cinta mereka telah cukup kuat. Namun hidup tidak pernah menguji seseorang dengan cara yang sama dua kali. Ia hanya mengubah bentuk jaraknya.

Di masa kini, Supi kembali berhadapan dengan sosok dari masa lalu: Darman. Dulu, ia adalah atasan yang memanfaatkan posisi dan kerentanan Supi. Kini, ia kembali dengan wajah yang lebih rapi dan tawaran yang lebih berbahaya—hubungan gelap berkedok MBA (Married But Available). Godaan itu bukan sekadar soal tubuh, tetapi tentang rasa aman palsu, kemudahan karier, dan janji hidup tanpa kesulitan.

Supi tahu ia telah berubah. Tapi trauma tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya menunggu saat yang tepat untuk mengetuk kembali.

Di sisi lain dunia, Evan menghadapi ujian yang tak kalah sunyi. Beasiswanya di Inggris diputus. Masa depan akademik yang ia bangun dengan disiplin dan pengorbanan runtuh dalam satu keputusan administratif. Untuk pertama kalinya, Evan merasa kecil—sebagai lelaki, sebagai pasangan, sebagai seseorang yang selama ini berjanji akan menjadi tempat pulang.

Di tengah kegamangan itu, Supi mendapat tawaran lain: Andi, teman masa kecilnya yang kini menjadi konglomerat di Amsterdam, membuka pintu kehidupan baru. Kota baru. Stabilitas. Hidup tanpa menunggu. Hidup yang—untuk pertama kalinya—tidak menuntut Supi untuk selalu kuat.

Di sanalah jarak mulai bekerja dengan cara paling kejam.

Jarak antara Supi dan Evan bukan lagi sekadar berada jauh dari tanah air, atau Amsterdam dan Sheffield. Ia menjelma menjadi jarak antara keyakinan dan kelelahan. Antara cinta yang bertahan dan kehidupan yang menawarkan jalan pintas. Antara masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh dan masa depan yang menunggu keputusan.

Apakah cinta cukup kuat untuk bertahan ketika tidak lagi ditopang oleh rencana yang indah?
Apakah kesetiaan tetap bermakna ketika pilihan lain tampak lebih aman?
Dan apakah mencintai berarti terus bertahan—atau berani melepaskan demi menyelamatkan diri sendiri?

Ketika Jarak Menguji Cinta adalah kisah tentang dua orang dewasa yang saling mencintai, tetapi juga sedang belajar mencintai diri mereka sendiri. Tentang bagaimana jarak tidak selalu memisahkan, tetapi memaksa seseorang menatap ke dalam—pada luka, ketakutan, dan keberanian yang selama ini dihindari.

Sebab pada akhirnya, bukan jarak yang menentukan apakah cinta bertahan.
Melainkan pilihan apa yang diambil saat jarak itu hadir.


Untuk membaca novel lengkapnya Anda diminta untuk melengkapi syarat berikut: Klik di sini


Senin, 08 Desember 2025

Badai Bulan Desember (Cerpen)

 


Oleh Abdul Rahman Saleh

Hujan Desember malam itu jatuh seperti tirai panjang yang menutupi seluruh dunia. Dedaunan gemetar diterpa angin, aroma tanah basah naik dari halaman, dan lampu-lampu jalan memantulkan kilau yang tidak pernah membuatku setenang dulu. Mungkin karena malam ini aku datang ke tempat yang dulu kupanggil rumah, tapi kini terasa seperti sebuah ruang yang tak lagi mempersilakan aku masuk.

Kalau tertarik, Anda bisa lanjutkan membaca dengan men"klik" di sini.

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

  Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian r...