by Abdul Rahman Saleh
Novel ini terdiri dari tiga novel yang saling berhubungan. Yang pertama berjudul Di Ujung Semua Luka, dilanjutkan dengan Saat Hujan di Sheffield Reda, dan ditutup oleh Ketika Jarak Menguji Cinta. Berikut adalah sinopsisnya:
Di Ujung Semua Luka
Supi Susilowati tumbuh di sebuah rumah tua peninggalan era
Belanda, tersembunyi di antara hamparan perkebunan teh Cipanas, Bogor. Rumah
itu adalah jantung kenangannya—tempat ia menjahit mimpi, mendekap sepi, dan
menunggu seseorang yang pernah membuat hidupnya berpendar. Seseorang bernama Arman
Abdullah, lelaki lembut yang hadir pada ulang tahunnya di sebuah Desember
yang dingin, dengan syal biru dan tatapan yang menjanjikan masa depan.
Namun hidup tak selalu berjalan seperti dongeng. Pada hari
ketika Supi berharap cinta—yang hanya sempat bersemi sebentar—akan tumbuh
menjadi kenyataan, ia justru menerima kabar yang mematahkan. Arman meninggal
dalam sebuah kecelakaan di luar kota. Yang tersisa hanya sepucuk surat dan syal
biru yang dikirim sahabatnya, Jatmiko, setahun kemudian. Sejak itu, Desember
bagi Supi bukan lagi bulan perayaan, melainkan ruang sunyi yang tak pernah
selesai.
Waktu berlalu, tetapi luka tetap tinggal. Untuk mengisi
kekosongannya, Supi mengubah rumah tua peninggalan orang tuanya menjadi rumah
baca sederhana. Di sana ia bertemu Evan, pemuda relawan literasi yang
ramah, cerdas, dan memiliki kelembutan yang mengingatkannya pada sesuatu yang
pernah hilang. Bersama Evan, rumah baca itu hidup kembali—anak-anak datang,
buku-buku dibuka, dan perlahan Supi pun membuka pintu hatinya.
Namun masa lalu tidak pernah pergi begitu saja. Ketika benih
cinta mulai tumbuh di antara mereka, Evan justru mendapat kesempatan beasiswa
ke Inggris. Dengan berat hati Supi melepasnya. Tapi tak ada yang tahu bahwa
kepergian itu akan menjadi awal dari badai panjang yang menggulung hidup Supi.
Di saat Evan belajar di Sheffield, hidup Supi terjungkal
masuk ke dalam tragedi. Rumahnya didatangi penjahat, ia dijarah, dianiaya, dan
diperkosa. Semua itu terjadi dalam satu malam, menghancurkan seluruh fondasi
jiwanya. Ia berharap tidak mengandung, tetapi takdir berkata lain. Supi hamil.
Untuk menutupi aib, bibinya menikahkan Supi dengan seorang tetangga lugu
bernama Harto—lelaki baik yang tak pernah menyentuh Supi tanpa izin.
Di Inggris, Evan menunggu surat yang tak pernah datang.
Pesan-pesan dan kabarnya tenggelam seperti ditelan laut. Kesedihan membuat
studinya hampir hancur sampai dosen pembimbing dan teman-temannya menolongnya
bertahan.
Setelah lulus, Evan kembali ke Indonesia dan langsung menuju
Cipanas. Tapi Supi sudah pergi. Bibi Siti mengungkapkan semuanya… kecuali di
mana Supi berada. Evan mencari ke berbagai kota, hingga akhirnya menyerah dan
memulai hidup baru sebagai dosen di Universitas Padjadjaran.
Takdir mempertemukan mereka kembali secara tak terduga—di
sebuah warung bakso di Dago, Bandung. Supi yang bekerja sebagai SPG dan Evan
yang baru pulang dari kampus akhirnya saling menatap untuk pertama kalinya
setelah bertahun-tahun. Semua pertanyaan, penyesalan, dan luka masa lalu pecah
seketika.
Supi takut. Evan teguh.
Supi penuh trauma. Evan penuh cinta.
Dan pada akhirnya, di tengah perjalanan panjang menuju
penyembuhan, mereka kembali berjalan bersama. Evan melamar Supi sebelum
keberangkatannya menempuh pendidikan doktoral di Sheffield. Kali ini, Supi
ikut. Mereka menikah dalam kesederhanaan dan terbang ke Inggris, menata hidup
baru di sebuah flat kecil YMCA—jauh dari masa lalu, dekat dengan harapan baru.
Sebab
ternyata, di ujung semua luka, cinta masih bisa menemukan jalan pulang.
Saat Hujan di Sheffield Reda
Setelah luka panjang masa lalu perlahan terobati, Evan dan
Supi memulai hidup baru sebagai pasangan suami-istri di Sheffield, Inggris.
Evan melanjutkan studi doktoralnya di University of Sheffield, sementara
Supi—yang datang dengan hati berdebar menghadapi negeri asing—berjuang
menemukan ritme hidupnya sendiri.
Mereka tinggal di YMCA di Pitsmoor Road, sebuah flat
internasional yang dihuni mahasiswa dari berbagai negara. Tantangan pertama
Supi adalah bahasa Inggris. Dengan tekad kuat agar tidak selalu bergantung pada
Evan, ia mengikuti kursus intensif. Dalam tiga bulan, ia mulai lancar
berbicara, bahkan memiliki banyak teman sesama istri mahasiswa yang tinggal di
flat itu.
Dari lingkaran pergaulan baru itulah Supi bertemu Karen
Smith, seorang wanita ramah yang bekerja di sebuah daycare. Karen yang terpikat
oleh ketekunan Supi menawarkan pekerjaan paruh waktu sebagai babysitter.
Setelah berdiskusi dengan Evan, Supi menerima tawaran itu. Pekerjaan barunya
memberinya rasa percaya diri, sekaligus membantu mereka bertahan hidup di kota
mahal seperti Sheffield.
Akan tetapi, hidup di perantauan tidak selalu mulus. Suatu
malam, setelah mengantar Karen keluar dari lobi, seorang pria lokal yang
frustrasi karena menganggur memaki-maki Supi. Ia menuduh para imigran “merebut
pekerjaan orang Inggris.” Supi ketakutan, tetapi pegawai YMCA menenangkannya.
Keesokan harinya, pria itu ditemukan bunuh diri, dan karena Supi orang terakhir
yang dilihat berbicara dengannya, YMCA segera menyembunyikan Supi dari
kerumunan polisi. Beruntung ia tidak sampai diinterogasi.
Meski sempat ingin berhenti bekerja, Karen meyakinkannya
bahwa ia aman. Supi bertahan. Perlahan ia kembali merasakan ketenangan hidup,
ditemani rutinitas jalan-jalan akhir pekan bersama Evan ke The Moor Market,
Meadows Hall, museum, atau sekadar menikmati kota berkabut itu.
Suatu hari, saat berbelanja cumi segar, Supi bertemu kembali
dengan Andi—teman masa kecilnya di Cipanas yang dulu membentuk trio kecil
bersama Arman. Pertemuan itu membuka pintu ke masa lalu. Andi yang kini sukses
bekerja di Amsterdam mengaku bahwa selama puluhan tahun ia tidak pernah
berhasil menghapus bayangan Supi dari hidupnya. Ia masih membujang, masih
memendam cinta lama yang tak pernah padam.
Pertemuan-pertemuan berikutnya menegangkan. Andi berusaha
mempengaruhi Supi, mengungkit kisah lama, memamerkan keberhasilannya, bahkan
menawarkan hidup baru bersamanya. Supi sempat goyah oleh kenangan, tetapi tidak
pernah berpindah hati. Pada pertemuan terakhir, ia menolak tegas dan meminta
Andi berhenti menghubunginya. Supi memilih Evan—masa depannya.
Setelah badai kecil itu berlalu, hidup kembali tenang.
Hingga suatu pagi Supi merasa mual. Hasil testpack menunjukkan ia hamil.
Kebahagiaan menyelimuti rumah kecil mereka.
Kehamilan Supi berjalan baik. Karen sangat mendukungnya.
Saat International Evening, Supi bahkan ikut memasak nasi uduk untuk stand
Indonesia, yang kemudian memenangkan penghargaan tertinggi.
Puncaknya adalah kelahiran bayi laki-laki sehat di Royal
Hallamshire Hospital. Evan dan Supi menamainya Ahmad Bagas Alvaro, simbol
kekuatan, kebijaksanaan, dan harapan baru.
Di
kota yang jauh dari kampung halaman, dalam dingin yang pernah terasa menusuk,
hujan perlahan reda. Dan bersama hadirnya kehidupan baru, cinta Evan dan Supi
menemukan rumahnya yang paling hangat.
Ketika Jarak Menguji Cinta
Jarak tidak selalu
diukur oleh kilometer.
Kadang ia hadir sebagai waktu yang belum sembuh, masa lalu yang menunggu, atau
pilihan yang menuntut keberanian.
Setelah badai
panjang yang mereka lewati dalam Di Ujung Semua Luka dan harapan yang
tumbuh kembali di Setelah Hujan di Sheffield Reda, Supi dan Evan percaya
bahwa cinta mereka telah cukup kuat. Namun hidup tidak pernah menguji seseorang
dengan cara yang sama dua kali. Ia hanya mengubah bentuk jaraknya.
Di masa kini, Supi
kembali berhadapan dengan sosok dari masa lalu: Darman. Dulu, ia adalah atasan
yang memanfaatkan posisi dan kerentanan Supi. Kini, ia kembali dengan wajah
yang lebih rapi dan tawaran yang lebih berbahaya—hubungan gelap berkedok MBA
(Married But Available). Godaan itu bukan sekadar soal tubuh, tetapi
tentang rasa aman palsu, kemudahan karier, dan janji hidup tanpa kesulitan.
Supi tahu ia telah
berubah. Tapi trauma tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya menunggu saat
yang tepat untuk mengetuk kembali.
Di sisi lain dunia,
Evan menghadapi ujian yang tak kalah sunyi. Beasiswanya di Inggris diputus.
Masa depan akademik yang ia bangun dengan disiplin dan pengorbanan runtuh dalam
satu keputusan administratif. Untuk pertama kalinya, Evan merasa kecil—sebagai
lelaki, sebagai pasangan, sebagai seseorang yang selama ini berjanji akan
menjadi tempat pulang.
Di tengah
kegamangan itu, Supi mendapat tawaran lain: Andi, teman masa kecilnya yang kini
menjadi konglomerat di Amsterdam, membuka pintu kehidupan baru. Kota baru.
Stabilitas. Hidup tanpa menunggu. Hidup yang—untuk pertama kalinya—tidak
menuntut Supi untuk selalu kuat.
Di sanalah jarak
mulai bekerja dengan cara paling kejam.
Jarak antara Supi
dan Evan bukan lagi sekadar berada jauh dari tanah air, atau Amsterdam dan
Sheffield. Ia menjelma menjadi jarak antara keyakinan dan kelelahan. Antara
cinta yang bertahan dan kehidupan yang menawarkan jalan pintas. Antara masa
lalu yang belum sepenuhnya sembuh dan masa depan yang menunggu keputusan.
Apakah cinta cukup
kuat untuk bertahan ketika tidak lagi ditopang oleh rencana yang indah?
Apakah kesetiaan tetap bermakna ketika pilihan lain tampak lebih aman?
Dan apakah mencintai berarti terus bertahan—atau berani melepaskan demi
menyelamatkan diri sendiri?
Ketika Jarak
Menguji Cinta adalah kisah
tentang dua orang dewasa yang saling mencintai, tetapi juga sedang belajar
mencintai diri mereka sendiri. Tentang bagaimana jarak tidak selalu memisahkan,
tetapi memaksa seseorang menatap ke dalam—pada luka, ketakutan, dan keberanian
yang selama ini dihindari.
Sebab pada
akhirnya, bukan jarak yang menentukan apakah cinta bertahan.
Melainkan pilihan apa yang diambil saat jarak itu hadir.
Untuk membaca novel lengkapnya Anda diminta untuk melengkapi syarat berikut: Klik di sini