Bandungan, kota kecil di lereng gunung itu, selalu berkabut setiap pagi. Dingin yang menusuk tulang seakan memaksa siapa pun untuk lebih lama berselimut. Tapi aku sudah terbiasa. Kamar kosku sempit, lembap, dan cat temboknya mulai mengelupas. Bau tembakau dari kamar sebelah kadang menyelinap masuk lewat celah jendela kayu. Kos ini tidak istimewa, tapi cukup untuk anak SMA perantauan sepertiku—yang penting bayar tepat waktu, begitu kata Bu Rini, si pemilik kos yang lebih tertarik pada amplop bulanan ketimbang kelakuan penghuninya.
Terminal novel adalah tempat saya berkreasi dengan menulis cerpen/novel. Anda boleh membaca dan mengunduh cerpen/novel saya dalam format pdf. Sebagian besar gratis. Tapi jika anda mau berbagi silakan donasikan sekedarnya ke rekening penulis di BNI dengan norek 0002942133. Hanya untuk sekedar penyemangat untuk tetap menulis. Terima kasih.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)
Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian r...
-
Sinopsis Bagaimana jika ambisi membutakan persahabatan? Lani dan Arman, dua sahabat yang dulu berbagi mimpi setelah kuliah, tiba-tiba ...
-
Oleh Abdul Rahman Saleh Disclaimer: Cerita ini ditulis berdasarkan cerita Usman (alm.), kakak ipar penulis, yang pernah diceritakan kepada ...
-
Disclamer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Mungkin ada sedikit kejadian yang mirip, nama yang mirip, atau lokasi yang digunakan oleh cerita ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar