Abdul Rahman Saleh
Malam itu, purnama bertahta di singgasana langit, menumpahkan
cahaya peraknya yang memukau, mengubah dunia menjadi lukisan bisu yang agung.
Resepsi pernikahanku baru saja usai, dan hiruk-pikuk kebahagiaan perlahan
mereda. Satu per satu kursi-kursi ditumpuk, piring-piring dikumpulkan, dan tawa
yang tadi memenuhi halaman rumah keluarga Tini kini hanya tinggal gema samar
yang mengendap di udara malam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar