Senin, 30 Maret 2026

Pelan-Pelan Dilupakan (Cerpen)

 

Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT

Abdul R Saleh

Pagi datang seperti biasa, tanpa gegap, tanpa janji apa pun. Cahaya matahari merayap pelan melalui celah tirai, jatuh di atas meja kerja yang dipenuhi buku, kertas, dan catatan-catatan yang tak lagi muda. Segalanya tampak diam, seolah waktu sengaja berjalan lebih lambat di ruangan ini.

Aku duduk di kursi yang sama, seperti hari-hari sebelumnya. Menyalakan laptop dengan gerakan yang nyaris ritual. Tidak tergesa, tetapi juga tidak benar-benar santai. Ada sesuatu yang kutunggu, meski aku tak pernah benar-benar mengakuinya.

Untuk terus mambaca silakan klik di sini

Jumat, 27 Maret 2026

Sawah, Kepodang, dan Janji yang Retak (Cerpen)

 


Abdul Rahman Saleh

Siang itu panas seperti ditumpahkan dari tungku. Terik tidak lagi sekadar panas, melainkan sesuatu yang menekan—diam-diam, lama, dan merayap sampai ke dalam dada. Angin berhenti pada niatnya sendiri. Daun-daun menggantung tanpa suara. Bahkan bayangan pun tampak enggan berpindah.

Dari rumpun bambu di belakang rumah, seekor kepodang memecah sunyi. Suaranya panjang, melengking, seperti keluhan yang tak selesai.

Panas… panas…


Klik di sini untuk membaca terus

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

  Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian r...