Abdul Rahman Saleh
Siang itu panas seperti ditumpahkan dari tungku. Terik tidak lagi sekadar panas, melainkan sesuatu yang menekan—diam-diam, lama, dan merayap sampai ke dalam dada. Angin berhenti pada niatnya sendiri. Daun-daun menggantung tanpa suara. Bahkan bayangan pun tampak enggan berpindah.
Dari rumpun bambu di belakang rumah, seekor kepodang memecah
sunyi. Suaranya panjang, melengking, seperti keluhan yang tak selesai.
Panas… panas…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar