Jumat, 27 Maret 2026

Sawah, Kepodang, dan Janji yang Retak (Cerpen)

 


Abdul Rahman Saleh

Siang itu panas seperti ditumpahkan dari tungku. Terik tidak lagi sekadar panas, melainkan sesuatu yang menekan—diam-diam, lama, dan merayap sampai ke dalam dada. Angin berhenti pada niatnya sendiri. Daun-daun menggantung tanpa suara. Bahkan bayangan pun tampak enggan berpindah.

Dari rumpun bambu di belakang rumah, seekor kepodang memecah sunyi. Suaranya panjang, melengking, seperti keluhan yang tak selesai.

Panas… panas…


Klik di sini untuk membaca terus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

  Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian r...