Oleh Abdul Rahman Saleh
Perpustakaan sore itu begitu hening, tapi kepalaku justru riuh. Jari-jariku tak berhenti mengetuk meja kayu yang kusam, seolah ikut menghitung detak panik di dadaku. Di layar ponsel, daftar nilai semester ini terpampang jelas: dua mata kuliah harus kuulang. Dua. Sesuatu di mataku terasa panas—antara lelah dan kecewa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar