Oleh Abdul Rahman Saleh
Dari seorang lulusan perguruan tinggi yang nyaris putus asa
karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan, Herman akhirnya menerima tawaran
bekerja di perpustakaan—bukan karena panggilan jiwa, tapi karena terpaksa.
Apa yang semula dianggap “tempat buangan” ternyata justru
menjadi tempat yang membentuknya dari dasar: mengenalkan ketekunan, kesunyian
yang penuh makna, dan obsesi akan perubahan.
Melalui lika-liku hidup pribadi, studi ke luar negeri,
hingga kehilangan ibunda tercinta di ujung masa studi, Herman tumbuh bukan
hanya sebagai pustakawan, tapi sebagai pelopor. Ia membangun sistem otomasi
perpustakaan dari nol bersama tim kecil, menghadapi resistensi internal, dan
tetap berjalan saat tak dianggap.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar