Abdul Rahman Saleh
“Yu, kamu jangan sombong!”
Suara itu memecah pagi seperti piring yang dijatuhkan dengan
sengaja. Aku yang sedang duduk di sudut ruang tamu tersentak. Dari dapur, suara
perempuan itu terus mengalir—tajam, keras, tanpa jeda.
“Rumah kamu saja seperti kandang ayam, kok sok mau
menguliahkan anak. Lihat aku! Hartaku tidak akan habis tujuh turunan. Anakku
tidak perlu kuliah!”
Untuk melanjutkan membaca silakan Klik di sini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar