Senin, 08 Desember 2025

Badai Bulan Desember (Cerpen)

 


Oleh Abdul Rahman Saleh

Hujan Desember malam itu jatuh seperti tirai panjang yang menutupi seluruh dunia. Dedaunan gemetar diterpa angin, aroma tanah basah naik dari halaman, dan lampu-lampu jalan memantulkan kilau yang tidak pernah membuatku setenang dulu. Mungkin karena malam ini aku datang ke tempat yang dulu kupanggil rumah, tapi kini terasa seperti sebuah ruang yang tak lagi mempersilakan aku masuk.

Kalau tertarik, Anda bisa lanjutkan membaca dengan men"klik" di sini.

Minggu, 30 November 2025

Dalam Diam Engkau Pergi (Cerpen)

Cerpen Abdul Rahman Saleh

Sejak kelas sepuluh, Novi dan Bobi adalah definisi dari kemalangan yang diromantisasi. Mereka tak terpisahkan—atau lebih tepatnya, Novi tak terpisahkan dari misi hidupnya untuk mengabdi kepada Bobi.


Untuk terus membaca cerpen ini silakan Klik di sini

Kamis, 20 November 2025

Cinta Monyet Ayu Utami (Novelet)

Disclamer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Mungkin ada sedikit kejadian yang mirip, nama yang mirip, atau lokasi yang digunakan oleh cerita ini sama. Semua kemiripan itu hanya kebetulan saja. Tidak ada maksud penulis untuk mengeksploitasinya.

RINGKASAN CERITA

CINTA MONYET AYU UTAMI

(sebuah novelet)

Tami, siswi kelas VII SMPN 1 Bangkalan, diam-diam saling menaruh perhatian dengan kakak kelas bernama Muhamad Machfud. Mereka berdua memulai hubungan surat-menyurat yang manis dan polos. Arman Abdullah, teman sebangku Tami, menjadi kurir surat mereka, namun diam-diam menaruh rasa pada Tami. Karena cemburu, Arman mulai membaca surat-surat itu dan kadang menunda mengirimkannya.
Belakangan Arman mengetahui bahwa Machfud bukan anak pemalu seperti yang terlihat, melainkan playboy yang berpacaran dengan banyak gadis. Tami menolak percaya, sampai dua pacar Machfud bertengkar di sekolah. Tami akhirnya bersyukur Arman membuat jarak, karena ia terhindar dari patah hati yang lebih besar. Tami memaafkannya, dan mereka tetap sahabat.
Memasuki SMA, Arman dan Tami makin jarang bertemu. Setelah lulus, Arman kuliah di Jurusan Komunikasi UI, sementara Tami yang pintar justru tidak bisa melanjutkan studi karena dijodohkan dengan kerabat keluarga. Ketika ia sedang mempersiapkan tes masuk Unair, utusan keluarga datang dan meminta taaruf. Tami tidak bisa menolak; seminggu kemudian ia dilamar dan dibawa suaminya, Hamdani, ke Jakarta.
Komunikasi Tami dengan sahabat-sahabatnya terputus selama bertahun-tahun. Arman dan Diana berusaha mencarinya, tetapi alamatnya tidak pernah jelas. Bertahun-tahun kemudian, Arman yang bekerja sebagai penyuluh sosial mendapat tugas ke Ciganjur, Jakarta Selatan. Di sebuah pertemuan ibu-ibu PKK, ia tak sengaja bertemu Tami yang sekarang dikenal sebagai Bu Ayu. Pertemuan itu penuh haru, dan akhirnya Tami memberi alamat rumahnya.
Di reuni SMA tahun berikutnya, Tami hadir bersama Arman dan Diana. Kepada Diana, Tami akhirnya menceritakan masa-masa kelam ketika ia dijodohkan dan dibawa ke Jakarta. Suaminya sebenarnya baik, tetapi sangat sibuk, sehingga Tami sering merasa kesepian dan tidak punya tempat curhat.
Suatu hari, Tami memberi Arman surat lama yang dulu ia simpan saat SMP—surat berisi kebingungan tentang sikap Arman terhadap kedekatannya dengan Machfud. Arman pun jujur tentang rasa cemburunya di masa lalu. Mereka saling memaafkan sepenuh hati, tanpa rasa ingin memiliki.
Akhirnya mereka menyadari bahwa tidak semua orang yang pernah dekat perlu menjadi pasangan. Beberapa hubungan ditakdirkan menjadi persahabatan yang tidak pudar oleh waktu. Cerita selesai dengan tiga sahabat—Arman, Tami, dan Diana—yang tetap saling menjaga, meski berjalan di jalan hidup masing-masing.


Klik di sini untuk membaca novelet lengkapnya



Senin, 29 September 2025

Euforia Cinta SMA (Cerpen)

Abdul Rahman Saleh

Sore meredup, langit memerah jingga sebelum akhirnya ditelan senja. Lampu jalan menyala malas, seakan enggan menyingkap jalanan basah bekas gerimis. Aku melangkah menuju rumah Evan, titik kumpul grup belajar kami. Malam ini kami hendak ke rumah Fina untuk pesta perpisahan kecil.

Untuk membaca lanjutan cerpen ini, klik di sini

Minggu, 28 September 2025

Cahaya yang Tak Terjangkau (Cerpen)

Oleh Abdul Rahman Saleh

Siang itu udara seperti bara. Matahari membakar jalan beraspal hingga tampak berkilau seperti mendidih. Debu beterbangan setiap kali angin kecil lewat. Beruntung rumah kos Arman dipagari pepohonan rindang, sehingga hawa panas agak mereda begitu ia masuk.

Untuk melanjutkan membaca silakan klik di sini


Sabtu, 27 September 2025

Satu Malam Sebelum Pergi (Cerpen)

Karya: Abdul Rahman Saleh

Setiap libur panjang, orang tuaku selalu mengajak kami sekeluarga berlibur di rumah nenek. Letaknya di sebuah kota kecil di kaki gunung. Biasanya aku merasa bosan, sebab harus sebulan penuh berada di sana. Teman-teman sebaya di kampung sering kali tidak nyambung kalau diajak bicara, sehingga aku lebih banyak menghabiskan waktu sendirian.

Untuk membaca lanjutan kisah ini, Klik di sini 

Hanya untuk Dikenang (Cerpen)

Oleh Abdul Rahman Saleh

Sebuah perpisahan kecil di akhir SMA membawa Arman pada kenangan yang tak lekang. Surat-surat beramplop merah muda dari Sufi—teman belajar yang diam-diam mengisi ruang hatinya—menjadi penghibur di tengah hiruk pikuk kehidupan kampus. Namun kebahagiaan itu berakhir ketika sebuah surat terakhir datang, menutup pintu harapan yang pernah ia jaga.

Bertahun-tahun kemudian, reuni mempertemukan mereka kembali. Hanya sekelebat tatapan, hanya sapaan singkat, sebelum keduanya kembali pada jalan masing-masing. Dan Arman sadar, ada cinta yang memang tidak untuk dimiliki… hanya untuk dikenang.

Untuk membaca cerpen lengkapnya klik di sini

Naik Haji

Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT Abdul Rahman Saleh Pagi di Kampung Betager selalu dimulai dengan suara timba beradu dengan bibir sum...